Karena Gadget, Jangan Sampai Mata
Dan Hati Menjadi Buta
Abu Faris Lanlan Tuhfatul Lanfas
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat, salam, dan berkah, semoga
Allah limpahkan kepada hamba dan rasul-Nya; Nabi kita Muhammad beserta
keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga
hari pembalasan.
Amma ba’du. Nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada kaum muslimin adalah
hidayah Islam dan pembebasan dari kegelapan menuju cahaya. Hidayah Islam
merupakan nikmat yang tidak dapat dibandingkan dengan nikmat apa pun. Di antara
nikmat terbesar yang Allah karuniakan kepada seorang Muslim, setelah Islam, ialah
nikmat akal dan kesehatan. Maka, sebagai bentuk syukur kepada Allah ‘azza wa
jalla atas nikmat ini ialah menggunakan nikmat tersebut dalam rangka taat kepada
Allah dan untuk hal-hal yang dapat mendatangkan kebahagiaan di dunia dan
akhirat. Selain itu, juga tidak menggunakan nikmat ini untuk bermaksiat kepada Allah
dan untuk hal-hal yang dapat memadaratkan di dunia dan akhirat.
Dewasa ini, penggunaan gadget adalah suatu hal yang sangat marak dan lumrah.
Ini merupakan nikmat, bila dimanfaatkan untuk kebaikan, dan menjadi bencana, bila
digunakan untuk keburukan. Orang berakal, yang ingin menasehati diri sendiri, ialah
yang hanya menggunakan barang-barang tersebut untuk kebaikan di dunia dan
akhirat, seperti: untuk komunikasi yang mubah dan menimba ilmu yang bermanfaat.
Adapun penggunaan gadget untuk selain tujuan di atas, yang dapat menimbulkan
madharat bagi seorang muslim di dunia dan akhirat, maka wajib dihindari. Hal
ini agar ia selamat dari penyakit buta mata dan hati. Ini mengingat bahwa cahaya yang
berasal dari ponsel (dan semisalnya) dapat menurunkan kemampuan mata, bila
dibarengi dengan intensitas yang tinggi dalam bermain gadget. Bahkan, terkadang
bisa menyebabkan kebutaan; hilangnya nikmat mata. Lebih dari itu, juga bisa
menyebabkan buta hati. Hal yang bisa menyebabkan seorang muslim terkena berbagai
macam penyakit syahwat yang dapat merusak akhlak dan penyakit syubhat yang dapat
merusak akal. Allah ‘azza wa jalla telah menjelaskan akan bahaya buta hati melalui
firman-Nya:
“Sebab, bukanlah mata yang menjadi buta, tetapi hati yang ada di dalam dadalah
yang menjadi buta” (Qs. Al Hajj: 46).
Maksudnya, kebutaan yang menimpa hati adalah kebutaan hakiki yang menyebabkan
kerugian di dunia dan akhirat. Dan hal ini disebabkan karena meninggalkan jalan
petunjuk dan meniti jalan kesesatan, sebagaimana yang Allah kisahkan tentang kaum
Nabi Shaleh:
“Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih
menyukai kebutaan (kesesatan) daripada petunjuk,“ (Qs. Fushshilat: 17).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ada dua nikmat yang banyak membuat manusia menjadi tertipu, yaitu: sehat dan
waktu luang.” (Hr. Bukhari, no. 6412).
Hadits ini merupakan hadits pertama dalam Kitab Raqa’iq dari Shahih Bukhari.
Maknanya, barangsiapa yang memanfaatkan kesehatan dan waktu luang pada hal-hal
yang dapat mendatangkan kebaikan maka akan beruntung. Dan barangsiapa yang
memanfaatkannya untuk hal-hal selain itu maka ia tertipu dan rugi. Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:
“Surga dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai sedangkan neraka dikelilingi oleh
hal-hal yang berbau syahwat”. (Hr. Bukhari, No. 6478 dan Muslim, No. 7130 dengan
lafazhnya).
Maknanya, jalan menuju surga itu sulit dan melelahkan; butuh perjuangan melawan
setan dan hawa nafsu yang selalu menyuruh pada keburukan. Oleh karen itu, seorang
muslim harus bersabar dalam ketaatan meskipun terasa berat sebab hasilnya pasti
terpuji. Sementara itu, jalan menuju neraka penuh dengan hal-hal berbau syahwat
yang disenangi jiwa. Ada yang haram dan ada pula yang mubah (boleh) namun
berlebihan dan melampaui batas. Karena itu, seorang muslim harus bersabar; jangan
sampai berbuat maksiat meskipun jiwa cenderung melakukannya. Sebab, akhir
daripada kemaksiatan adalah kerugian. Ketaatan memang terasa berat bagi jiwa sebab
ia pahit dan tak terlihat manisnya sedangkan kemaksiatan terasa ringan dilakukan
karena ia terasa manis dan tak terlihat rasa pahitnya.
Bila laki-laki menggunakan gadget untuk melihat wanita (yang tidak halal) dan wanita
menggunakan untuk melihat laki-laki (yang tidak halal) serta perilaku keji lain, maka
hal ini termasuk perilaku zina, sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam Shahih Muslim (hadits no. 6754) yang diriwayatkan dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu:
“Telah ditentukan atas anak Adam (manusia) bagian zinanya. Ia akan
mendapatkannya dan tidak bisa dihindari. Zina kedua mata adalah memandang, zina
kedua telinga adalah mendengar, zina lisan adalah berbicara, zina tangan adalah
memegang (wanita yang bukan mahram), zina kaki adalah melangkang, zina hati
adalah berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluanlah yang membenarkan atau
mendustakan semua itu.”
Fitnah yang ditimbulkan gadget sangatlah besar dan berbahaya berhubung ia ada
dalam genggaman orang dewasa maupun anak kecil; ada di rumah mereka siang dan
malam. Kepedulian para ayah dan siapa saja yang mempunyai kekuasaan khusus
terhadap keselamatan orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab mereka dari
penyalahgunaan ponsel (untuk tujuan buruk, pen) adalah wajib ‘ain berdasarkan
firman Allah ‘azza wa jalla:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. At Tahrim: 6)
Juga sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Kalian adalah pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban tentang
kepemimpinan kalian. Seorang imam (kepala negara) adalah pemimpin dan ia akan
ditanyai tentang kepemimpinannya. Seorang laki-laki (kepala rumah tangga) adalah
pemimpin dalam keluarganya dan ia akan ditanyai tentang kepemimpinanya.” (Hr.
Bukhari, no 893 dan Muslim, no: 4724 dari Abdullah bin Umar radhiyallahu
‘anhuma)
Mudah-mudahan Allah memberikan taufiq kepada kaum muslimin untuk mengerjakan
semua kebaikan, di mana pun mereka berada, baik pemerintah maupun rakyatnya,
laki-laki maupun perempuan, yang besar maupun yang kecil. Juga menjaga mereka
dari semua bentuk keburukan yang tampak maupun yang tersembunyi. Sesungguhnya
Dia Maha Mendengar lagi Maha Memperkenankan doa.
Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat, salam, dan berkah kepada Nabi kita
Muhammad berserta keluarga dan para sahabatnya.
***
dari ihdzaruu ‘ama bashaa’irikum wa abshaarikum bi an nazhar fii al jawwaalaat wa
syibhuhaa ayyuhal muslimun karya Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad Al Badr.
Penerjemah: Abu Faris Lanlan Tuhfatul Lanfas
Editor: Ust. Ridho Abdillah, Lc., MA.
DIGITAL CAMERA DIGITAL CAMERADIGITAL CAMERADIGITAL CAMERADIGITAL CAMERADIGITAL CAMERADIGITAL CAMERADIGITAL CAMERADIGITAL CAMERADIGITAL CAMERADIGITAL CAMERADIGITAL CAMERADIGITAL CAMERADIGITAL…
Ratusan Anak Yatim membutuhkan Biaya Pendidikan Ayuk jadi Donatur untuk membantu Pendidikan Anak Yatim Yayasan…
Alhamdulillah telah terima Beras Zakat Fitrah sejumlah 69 Kg. Dengan rincian 3 Kg beras x…
Alhamdulillah Pembagian Zakat Maal dan Sembako telah tersampaikan kepada 150 anak yatim dhu’afa. Adapun tiap…
Dalam bahasa Arab, arriya’ (الرياء) berasal dari kata kerja raâ ( راءى) yang bermakna memperlihatkan.…